Bisa Hamil Lagi Setelah Melakukan Tindakan Aborsi
ilustrasi-ibu-hamil-sedang-bersedih

Bisa Hamil Lagi Setelah Melakukan Tindakan Aborsi

Bisa Hamil Lagi Setelah Melakukan Tindakan Aborsi – Mengetahui bahwa Anda telah melakukan aborsi tentu dapat membuat Anda merasa khawatir mengenai dampaknya terhadap kehamilan berikutnya. Jadi, apakah sebenarnya aborsi mengganggu kehamilan berikutnya?

Apa pun alasan Anda melakukan aborsi dan apakah prosedur tersebut sudah bertahun-tahun yang lalu atau baru Anda lakukan, bukan berarti aborsi akan mempengaruhi kesempatan Anda untuk menjadi ibu suatu hari nanti.

Pengaruh aborsi terhadap kesempatan untuk kembali hamil

ilustrasi-ibu-hamil-sedang-bersedih
ilustrasi-ibu-hamil-sedang-bersedih

Wajar jika Anda merasa khawatir mengenai efek aborsi yang mungkin akan mempengaruhi kesempatan Anda untuk hamil lagi. Namun, dalam sebagian besar kasus, tidak ada masalah yang muncul terkait kehamilan berikutnya jika dilakukan secara legal dan aman.

Tentunya, sama seperti operasi apa pun, ada kemungkinan kecil adanya komplikasi yang dapat mempengaruhi kehamilan atau kesuburan Anda. Meskipun begitu, kemungkinan adanya komplikasi ini jarang terjadi.

Faktor risiko yang dapat mempengaruhi kehamilan

Ada kemungkinan bahwa aborsi, kehamilan, dan risiko terkait melahirkan memiliki keterkaitan. Meskipun hal tersebut jarang terjadi, penting untuk tetap diketahui.

Dilansir dari momandbaby.co.uk, Dr Geetha Venkat, direktur Harley Street Fertility Clinic, mengatakan bahwa jika ada masalah selama proses aborsi, Anda mungkin menghadapi kesulitan untuk mendapatkan atau mempertahankan kehamilan.

Langkah pertama untuk prosedur aborsi adalah pelebaran serviks. Dalam kasus serviks yang rapat, lebih banyak kekuatan yang harus digunakan untuk melebarkannya. Hal tersebut akan menyebabkan terjadinya trauma pada jaringan, menyebabkan serviks menjadi lemah, dan menyebabkan keguguran atau kelahiran prematur.

Risiko lebih tinggi saat prosedur aborsi dilakukan lebih dari satu kali

Jika Anda berkali-kali menggugurkan kandungan, maka risiko aborsi mengganggu kehamilan berikutnya jauh lebih tinggi. Bahkan, mengalami beberapa kali aborsi juga membuat Anda lebih berisiko terkena infeksi setelah prosedur ini terjadi.

READ  4 Jenis Aborsi Umum Di Gunakan Oleh Masyarakat Indonesia

Kasus ini dapat menghalangi tuba falopi. Jika tuba falopi mengalami penyumbatan, maka sel telur dan sperma tidak dapat bertemu sehingga konsepsi atau pembuahan tidak akan terjadi.

Selain itu, kuret atau aborsi yang dilakukan berkali-kali (lebih dari 3 kali) juga berisiko membuat rahim menjadi tidak sehat, seperti menjadi kering dan mengubah jaringan sehat menjadi jaringan ikat.

Dilansir dari health.detik.com, dr R Muharam, SpOG mengungkapkan bahwa aborsi yang dilakukan secara ilegal dan tidak baik dapat menimbulkan terjadinya kerusakan pada organ fisik dalam, seperti menembus ke usus serta rahim mengalami robek atau bolong.

Sementara itu, jika prosedur aborsi yang dilakukan tidak tuntas, dalam arti masih ada janin atau plasenta yang tersisa di dalam rahim, dapat menyebabkan terjadinya perdarahan terus menerus. Kondisi lainnya yang mungkin muncul pada aborsi tidak tuntas adalah memicu munculnya tumor.

Risiko lain dari prosedur aborsi yang tidak tuntas, ilegal, ditambah dengan peralatan yang tidak steril, dapat menyebabkan terjadinya infeksi yang parah maupun komplikasi lainnya. Terutama jika bentuk rahim Anda tergolong sulit.

Hamil lagi setelah menjalani prosedur aborsi legal

Meskipun risiko aborsi mengganggu kehamilan dapat dikurangi dengan melakukan prosedur yang legal dan aman, Anda tidak dapat langsung memutuskan untuk hamil lagi setelah menggugurkan kandungan.

Setelah melakukan aborsi legal baik rumah sakit atau klinik aborsi dengan ditangani dokter kandungan (ObGyn) berlisensi, Anda perlu menunggu setidaknya satu bulan sebelum memutuskan untuk hamil lagi. Tubuh Anda telah mengalami banyak hal dan perlu waktu untuk beristirahat sebelum siap menghadapi kehidupan lain (kehamilan berikutnya).

Bukan hanya itu, lapisan rahim juga perlu disembuhkan sepenuhnya sebelum ditempati lagi oleh janin berikutnya. Biasanya perdarahan ringan (flek) akibat aborsi berlangsung selama dua hingga tiga hari, namun jika berlangsung lebih lama dan parah, Anda harus segera berkonsultasi dengan dokter.

READ  4 Jenis Aborsi Umum Di Gunakan Oleh Masyarakat Indonesia

Dilansir dari health.detik.com, dr R Muharam, SpOG mengungkapkan bahwa aborsi yang dilakukan secara ilegal dan tidak baik dapat menimbulkan terjadinya kerusakan pada organ fisik dalam, seperti menembus ke usus serta rahim mengalami robek atau bolong.

Sementara itu, jika prosedur aborsi yang dilakukan tidak tuntas, dalam arti masih ada janin atau plasenta yang tersisa di dalam rahim, dapat menyebabkan terjadinya perdarahan terus menerus. Kondisi lainnya yang mungkin muncul pada aborsi tidak tuntas adalah memicu munculnya tumor.

Risiko lain dari prosedur aborsi yang tidak tuntas, ilegal, ditambah dengan peralatan yang tidak steril, dapat menyebabkan terjadinya infeksi yang parah maupun komplikasi lainnya. Terutama jika bentuk rahim Anda tergolong sulit.

Hamil lagi setelah menjalani prosedur aborsi legal

Meskipun risiko aborsi mengganggu kehamilan dapat dikurangi dengan melakukan prosedur yang legal dan aman, Anda tidak dapat langsung memutuskan untuk hamil lagi setelah menggugurkan kandungan.

Setelah melakukan aborsi legal baik rumah sakit atau klinik aborsi dengan ditangani dokter kandungan (ObGyn) berlisensi, Anda perlu menunggu setidaknya satu bulan sebelum memutuskan untuk hamil lagi. Tubuh Anda telah mengalami banyak hal dan perlu waktu untuk beristirahat sebelum siap menghadapi kehidupan lain (kehamilan berikutnya).

Bukan hanya itu, lapisan rahim juga perlu disembuhkan sepenuhnya sebelum ditempati lagi oleh janin berikutnya. Biasanya perdarahan ringan (flek) akibat aborsi berlangsung selama dua hingga tiga hari, namun jika berlangsung lebih lama dan parah, Anda harus segera berkonsultasi dengan dokter.

Leave a Reply

Close Menu